Siswa Kelas IX SMP Islam Al Bayyinah Sulap Limbah Kayu Menjadi Bonsai Kering
Kreativitas siswa kelas IX Malik bin Anas SMP Islam Al Bayyinah Makassar kembali diwujudkan melalui proyek kerajinan yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana di lingkungan sekitar.
·2 menit baca·Dibaca 46 kali
Makassar, 6 Oktober 2026 — Kreativitas siswa kelas IX Malik bin Anas SMP Islam Al Bayyinah Makassar kembali diwujudkan melalui proyek kerajinan yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana di lingkungan sekitar. Dalam proyek Prakarya, para siswa membuat bonsai kering dengan memanfaatkan limbah organik berupa potongan kayu yang kemudian dirangkai dan dihias menggunakan daun serta bunga plastik.
Menariknya, setiap siswa diberikan kesempatan untuk mencari sendiri bahan utama bonsai di sekitar tempat tinggal masing-masing. Mereka memilih potongan kayu yang memiliki bentuk, lekukan, atau percabangan yang unik dan berpotensi menjadi struktur bonsai. Kayu tersebut kemudian dibersihkan, dirangkai, dan dipadukan dengan daun maupun bunga plastik sehingga menghasilkan karya yang menyerupai tanaman hias.
Proses tersebut tidak hanya melatih keterampilan membuat kerajinan, tetapi juga mendorong siswa untuk melihat potensi benda-benda yang selama ini dianggap sebagai limbah. Dengan kreativitas, potongan kayu yang sederhana dapat diubah menjadi dekorasi yang memiliki nilai estetika.
Kepala SMP Islam Al Bayyinah Makassar, Inal Iqbal, mengatakan bahwa bonsai kering dapat menjadi salah satu alternatif tanaman hias, khususnya untuk ruangan yang memiliki keterbatasan cahaya matahari.
“Bonsai kering ini bisa menjadi alternatif tanaman hias untuk ruangan yang minim cahaya matahari. Selain tidak membutuhkan perawatan seperti tanaman hidup, bentuknya juga dapat memberikan keindahan dan suasana alami di dalam maupun di sekitar ruangan,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi cuaca yang cukup menantang juga menjadi salah satu alasan munculnya gagasan untuk menghadirkan alternatif dekorasi hijau yang tidak bergantung pada kondisi pertumbuhan tanaman hidup.
Dalam kondisi El Niño, ketika cuaca cenderung lebih panas dan kering, sebagian tanaman dapat mengalami kesulitan untuk tumbuh secara optimal apabila tidak mendapatkan perawatan dan ketersediaan air yang memadai. Bonsai kering menjadi salah satu alternatif untuk tetap menghadirkan unsur visual tanaman yang dapat memanjakan mata tanpa membutuhkan penyiraman dan perawatan intensif.
“Ketika kondisi lingkungan kurang mendukung pertumbuhan tanaman, kita tetap bisa menghadirkan nuansa hijau melalui karya kreatif. Ini sekaligus mengajarkan kepada siswa bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan dengan berbagai cara,” tambah Inal Iqbal.
Pembuatan bonsai kering merupakan bagian dari tugas proyek Prakarya Kerajinan siswa kelas IX. Karya tersebut dikumpulkan pada 24 September 2026 setelah melalui proses pencarian bahan, perancangan, perakitan, hingga penyelesaian.
Kini, bonsai-bonsai kering hasil karya siswa tidak hanya menjadi tugas yang selesai setelah dinilai. Berbagai karya tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari mini garden di depan kelas. Deretan bonsai dengan bentuk kayu yang beragam memberikan sentuhan dekoratif pada area depan kelas sekaligus menjadi bukti nyata bahwa hasil pembelajaran dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah.